Showing posts with label praktikum. Show all posts
Showing posts with label praktikum. Show all posts

Saturday, February 12, 2011

Syringe Filter Holder

4 comments
Berbagai Syringe Filter Holder

Syringe filter holder, sebuah alat penting yang membantu dalam proses penyaringan. Seperti namanya, alat ini adalah penahan syringe yang digunakan untuk menyaring yang di dalam alat ini dimasukkan membran yang akan adalah sang penyaring.

Dalam dunia kita ini, dunia farmasi maksudnya, syringe filter holder digunakan dalam:
  1. Menghilangkan partikulat dari sampel yang akan dianalisis dengan HPLC, GC, MS, NMR (juga dari sampel yang akan dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis jika sampel mengandung zat-zat yang tidak larut, contohnya di uji disolusi) atau  dari sediaan yang harus bebas partikulat. Karena tujuannya adalah menghilangkan partikulat  maka membran yang digunakan cukup membran partikulat 0,45µm. Kecuali ada alasan tertentu yang membuat penyaringan harus dilakukan dengan membran bakter 0,22µm.
  2. Mensterilisasi sediaan yang diharuskan steril tetapi tidak tahan lembab, panas, cahaya. Tentunya digunakan membran bakteri 0,22µm yang dapat menahan bakteri.
  3. -dll- aplikasi lain yang memungkinkan.
Nah,  yang perlu diingat saat menggunakan alat ini:
  1. Jangan salah menggunakan alat ini. Contohnya saat akan mensterilisasi sediaan, jangan mengambil sediaan ruah dengan syringe yang telah terpasang dengan syringe filter holder dan membran. Saat mengambil sediaan yang tidak steril tersebut, bagian membran yang akan kontak dengan filtrat menjadi tidak steril dong. Contoh lain yang serupa, saat mengambil sampel uji disolusi.
  2. Gunakan syringe filter holder yang tepat. Kenapa ada berbagai macam bahan penyusun syringe filter holder ini? Kenapa ada berbagai macam ukuran diameternya? Kalau tidak tersedia pilihan.. yahhh, terpaksa :P
  3. Pastikan menggunakan membran yang tepat. Membran partikulat atau membran bakteri?
  4. Pastikan menggunakan sisi membran yang tepat. Nah, bagian yang lebih kasar menghadap ke mana? Ke arah cairan yang akan difiltrasi atau ke filtrat?
  5. Pastikan posisi membran pada syringe filter holder tepat. Kadangkala pengguna tidak tahu cara memposisikan membran dalam syringe filter holder. Saya sendiri saja terkadang lupa... hehehe.. Berikut gambar posisi membran yang tepat.
    sumber: http://www.osmolabstore.com

    Jadi, membran itu harus berada di antara saringan dan cincin putih.
  6. Jangan lupa mensterilkan alat ini, untuk yang berhubungan dengan steril. Gunakan metode sterilisasi yang tepat. Syringe filter holder dari Sartorius itu autoclavble juga ada yang bisa dry heat (yang stainless steel).
  7. Jangan merusak alat ini.. hahahahaha.. mahal bow. Ada sih yang murah, stainless steel 13 mm buatan Cole-Palmer, di Amazon.com dihargai $2.5 saja.. tapi ongkos kirimnya??? Gasket,PTFE; for stainless steel syringe filter holder, 13 mm. Kalau di SAKURA sih ada, tapi yang 25 mm (yang di lab biasanya 13mm), disposable, harga Rp. 15000 saja.
  8. Jangan lupa dicuci yaa...Caranya?
    Bongkar.
    Perhatikan apakah ada luka.
    Bersihkan semua komponen dengan deterjen lab standar yang rendah alkali, non-abrasive.. hmmm.. ga punya kayanya.. hahaha.
    Bersihkan sambungan dengan sikat yang kaku.
    Cuci dengan air ledeng lalu terakhirnya dengan aquades atau aqua deion.
    Keringkan, jangan disimpan dalam keadaan basah.
  9. -dll- :P
Nah, karena ada yang tanya tentang beli syringe filter holder ini di mana, saya coba-coba ingat, dulu itu di kampus ada pameran dari Waters (supplier resminya di sini Kromtekindo) dan saya pernah tanya-tanya tentang syringe filter holder ini. Untuk yang stainless steel, 13 mm harganya dulu saja sudah 2,5 juta rupiah. Bisa juga coba tanya ke Laborindo.

Tadi saya sempat ke toko Sakura, di Bandung, saya lihat ada syringe filter holder dari polycarbonate keluaran Sartorius. Saya tanyakan yang 25 mm harganya Rp. 175.000.Mereka menjual yang 47 mm juga.

Untuk kontak sakura, bisa lewat Yahoo Messenger atau email mereka yang ada di website mereka. Untuk websitenya, http://www.tokosakura.com/

Sumber:
  1. GE Osmonics Labstore: GE Swinney, 13 mm Filter Holders
  2. Sartorius: Laboratory Product Catalogue, Total Laboratory Science Support 
  3. Sartorius Stedim Biotech:  Minisart® Syringe Filters Brochure  
  4. Sterlitech Corporation: Stainless Steel Syringe Filter Holders
  5. The Blog of Rosadora: Syringe Filter Holder
  6. Sartorius: Polycarbonate syringe filter holder, 25 mm 16517----------E


      Monday, January 24, 2011

      Fotometer vs Spektrofotometer

      0 comments
      Ayo, ada yang tau ga apa bedanya fotometer dan spektrofotometer? Dari katanya saja sudah jelas berbeda di "spektro".

      Ya, jika kita gunakan fotometer, kita tidak bisa mendapat spektrum serapan. Kenapa? karena alatnya tidak memungkinkan hal itu. Pada spektrofotometer terdapat monokromator yang bisa diatur untuk menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang yang berubah teratur (maksudnya dari 200 nm lanjut ke 201 nm -dst-). Di fotometer tidak ada.

      Spektroskopi UV-Vis, sebuah outline

      0 comments
      Praktikum Spektroskopi UV-Vis ini terdiri dari 2 percobaan yaitu penetapan kadar dan penentuan titik isosbestik. Namun, setelah saya pikir-pikir kembali.. isi praktikum itu bukan hanya sekedar 2 topik tersebut, tetapi lebih luas. Agar poin-poin tersebut tercapai, tentu saja peran asisten sebagai pengarah adalah sangat besar. Karena tidak semua asisten mengetahui poin-poin tersebut (saya saja baru sadar akan poin-poin tersebut setelah mengalami TA, ujian apoteker).

      Poin-poin penting saya sadari sebenarnya ada dalam praktikum ini adalah:

      1. Rangkaian kontrol kualitas (Quality Control)
        Penggunaan spektrofotometri UV-Vis dalam kehidupan nyata salah satunya adalah digunakan dalam kontrol kualitas (Quality Control). Dalam serangkaian kontrol kualitas ini terdapat paling tidak 3 hal ini, penyiapan sampe; Uji identifikasi; Penetapan Kadar.

        Penyiapan sampel
        Sampel harus diperlakukan sedemikian rupa agar proses analisis dapat dilakukan. Cara yang paling sederhana misalnya adalah proses pelarutan, pengenceran.

        Analisis kualitatif (Uji identifikasi)
        Penting untuk mengetahui apakah analit yang kita analisis itu sesuai dengan yang kita ingingkan. Identitas suatu senyawa menggunakan spektrofotometri UV-Vis dapat diketahui melalui parameter: panjang gelombang puncak maksimum, nilai absorptivitas, bentuk spektrum.

        Analisis kuantitatif (Penetapan kadar dengan one point dan multiple point method)
        Penentapan kadar menggunakan instrumen seperti spektrofotometri UV-Vis ini adalah metode penetapan kadar komparatif, artinya diperlukan suatu pembanding yang telah diketahui kadarnya. Berbeda dengan penentapan kadar dengan metode titrasi yang bersifat absolut (jumlah senyawa dari dalam sampel dapat diketahui tanpa adanya pembanding).

        Yang dibandingkan adalah respon sampel terhadap respon pembanding. Dalam proses membandingkan ini dapat digunakan 2 metode yaitu membandingkan dengan 1 titik konsentrasi pembanding (one point method) atau dengan beberapa titik konsentrasi pembanding (multiple point method) atau dengan kata lain menggunakan kurva kalibrasi.

        Setelah diketahui konsentrasi sampel tentu saja bisa ditelusuri berapa kadar senyawa tersebut dalam sampel. Contohnya, telah diketahui konsentrasi larutan sampel dari tablet vitamin C, berdasarkan pengenceran yang dibuat, bobot tablet awal, dapat ditentukan jumlah vitamin C yang terdapat dalam tablet. Barulah dihitung persentase kadar vitamin C tersebut terhadap etiket. (Pada bagian ini harap diperhatikan, tidak boleh menghitung persentase langsung dengan hanya membandingkan respon sampel terhadap respon pembanding. Karena.. bukan begitu jalan ceritanya). Dari hasil pengolahan data barulah dapat dibuat simpulan apakah tablet vitamin C tersebut memenuhi persyaratan atau tidak (persyaratan mengacu pada kompendia yang berlaku, contohnya Farmakope Indonesia IV atau USP 32).

      2. Analisis multikomponen
        Pada percobaan penentuan titik isosbestik itu sebenarnya merupakan suatu analisis multikomponen. Oleh karena itu, dalam perhitungannya harus menggunakan perhitungan analisis multikomponen.


      3. Penentuan pKa
        Output lainnya dari percobaan penentuan titik isosbestik adalah penentuan pKa sampel.
      Ternyata praktikum 4 jam itu bukan sekedar melarutkan dan menggunakan alat kan? Dengan begini, saya berharap isi laporan dari praktikan juga semakin bermutu. Dari 3 poin di atas saja sudah banyak yang bisa dibahas kan? Jangan malah membahas sejarah alat, komponen alat, sejarah senyawa sampel, efek farmakologi senyawa sampel (walaupun ini di farmasi, tapi pembahasan tersebut tidak berkaitan dengan percobaan).. menurut saya pembahasan seperti itu meaningless.

      Semoga praktikum ini berguna :)

      Saturday, January 8, 2011

      Cara Penentuan Ukuran Partikel Menggunakan Mikroskop

      3 comments
      Untuk mengukur partikel yang tidak nampak secara visual, kita dapat menggunakan bantuan mikroskop. Selain mikroskop, perlengkapan penting yang harus disediaakan adalah lensa okuler dan kaca objek khusus yang namanya ocular and stage micrometer. Penggunaan alat ini pernah disinggung dalam kuliah Farmakognosi Analitik dalam topik mengukur ukuran serbuk. Namun yang akan saya tulis di sini adalah penggunaannya dalam evaluasi sediaan (sediaan dalam sistem terdispersi dan sediaan yang dipersyaratkan jumlah partikel dengan ukuran tertentu). Penentuan ukuran partikel ini digunakan dalam evaluasi sediaan dengan sistem terdispersi. Yang akan ditentukan adalah distribusi ukuran partikel dalam sediaan dispersi tersebut. Selain itu, juga untuk menentukan jumlah partikel dengan rentang ukuran tertentu pada salep mata. Untuk ulasan mengenai evaluasi distribusi ukuran partikel dan evaluasi jumlah partikel dalam salep mata bisa klik di sini.

      Pada lensa mikrometer okuler (ocular micrometer) terdapat garis-garis yang diberi angka (ukuran), maksudnya seperti gambar berikut:
      Pada mikrometer kaca objek (stage micrometer) terdapat garis-garis dengan panjang total dari garis pertama hingga garis terakhir adalah 0.01 mm = 10 μm. Gambarnya sebagai berikut:



      Fungsi dari mikrometer kaca objek adalah sebagai pemberi ukuran standar. Pada kaca tersebut terdapat garis-garis skala dengan ukuran tertentu. Agar saat pengamatan, agar dapat ukuran partikel dapat diukur saat diamati, maka perlu dilakukan terlebih dahulu kalibrasi garis pada mikrometer okuler terhadap ukuran standar.


      Kalibrasi dilakukan dengan menhitung jumlah garis yang berhimpit. Pada contoh gambar di atas, jumlah total garis pada mikrometer okuler (eyepiece lines, disebut X) adalah dari 21 hingga 59 atau 38 garis skala. Jarak garis pertama hingga garis akhir pada kaca mikrometer objek (calibration slide lines, disebut Y) adalah 10 garis skala. Dengan begitu, dapat dikatakan:
      38 skala pada mikrometer okuler ~ 10 garis skala kaca mikrometer objek.
      1 skala pada mikrometer okuler ~ (10/38) x 10μm = 2.63 μm

      1 skala pada mikrometer okuler = (Y/X) x 10 μm


      Prosedur pengukuran ukuran partikel:
      1. Siapkan mikroskop, pasang mikrometer okuler dan mikrometer kaca objek pada tempatnya.
      2. Lakukan kalibrasi mikrometer okuler terhadap mikrometer objek dengan perbesaran yang akan digunakan (jika beberapa perbesaran yang digunakan, kalibrasikan pada seluruh perbesaran yang digunakan). Pada tahap ini, putar mikrometer okuler dan geser posisi mikrometer kaca objek hingga didapatkan posisi yang berhimpit antara garis-garis pada mikrometer okuler dan mikrometer kaca objek. Tentukan berapa garis pada mikrometer okuler yang berhimpit (superimpose) dengan garis pada mikrometer kaca objek. Disarankan untuk menggunakan garis awal dan garis akhir terhimpit dengan jarak yang paling jauh untuk mengurangi kesalahan.
      3. Siapkan sampel pada kaca objek yang lain. Jangan gunakan di mikrometer kaca objek, toh fungsi dari mikrometer kaca objek itu hanya untuk kalibrasi saja, lagipula saat diberi sampel garis-garis pada mikrometer kaca objek akan tertutup sampel.. apalah bedanya dengan kaca objek biasa jadinya? Terlebih lagi mengingat harga mikrometer kaca objek yang pasti tidak murah.
      4. Lepas mikrometer kaca objek, hati-hati jangan mengubah tinggi tabung mikroskop.
      5. Tempatkan kaca objek yang sudah berisi dengan sampel pada tempatnya.
      6. Silakan cari partikel yang akan diukur, ukur ukuran partikel dengan skala pada mikrometer okuler.
      7. Hitung ukuran sesungguhnya partikel yang diukur.

      Sumber isi dan gambar:
      1. Biology Program Iowa State University: "Lab Topic 2: Technique in Microscopy"
      2. Gustavus Adolphus College: "Exercise 1.3 - Measurements: Ocular and Stage Micrometers"
      3. LabShop.com - Affordable Lab Shop
      4. Mr. Damon: "Laboratory Investigation: The Micrometer Eyepiece"
      5. MxRady Lab Solutions Pvt.Ltd.
      6. Shibuya Optical Co., Ltd. : Objective Micrometer
      7. The blog of rosadora: Distribusi Ukuran Partikel


      Note ini dibuat mengingat saat ujian apoteker, seluruh peserta tidak tahu cara menggunakan alat tersebut dan mendapat arahan yang salah. Semoga apa yang ditulis di sini benar, sehingga saya tidak memberi arahan yang salah.

      :)

      Sunday, December 12, 2010

      Titrasi Iodatometri dengan Indikator Kloroform

      1 comments
      Titrasi iodiometri (sepertinya) adalah titrasi dengan iodium. Dalam titrasi iodiometri dikenal titrasi iodimetri, iodometri, dan iodatometri. Yang akan saya tuliskan di sini adalah titrasi iodatometri.

      Pertanyaan standar baik untuk tes awal praktikum maupun soal ujian mengenai titrasi iodiometri ini adalah:
      Apakah perbedaan titrasi iodimetri, iodometri, dan iodatometri

      Secara singkat, perbedaannya adalah "iodium"nya. Pada titrasi iodimetri, iodium digunakan sebagai peniter langsung; pada titrasi iodometri, iodium dihasilkan dari reaksi; pada titrasi iodatometri... hmmm dihasilkan iodium juga dan terjadi perubahan I2 menjadi I+ dan peniter yang digunakan adalah iodat.

      Salah satu modul pada praktikum AFA adalah titrasi iodatometri. Titrasi ini merupakan metode yang katanya sih jadul. Saat praktikum atau kuliah mungkin tidak terlalu memperdulikan kejadulan metode ini.. Tapi saat menghadapi surat kontrak ujian apoteker dan mendapatkan titrasi iodatometri pasti peserta ujian langsung pusing 7 keliling, karena yaaa... tidak mendapatkan pustakanya.. Silakan saja tanya mas Google, apakah Anda mendapatkan jawaban yang memuaskan? Hmmm.. sepertinya tidak :D

      Saya tidak ingat 5 tahun yang lalu apa sampel yang diberikan asisten untuk titrasi iodatometri yang saya lakukan.. Jika tulisan yang saya buat tidak salah, sampel yang saya dapatkan adalah hidrogen peroksida (H2O2). Hampir saja saya memberikan sampel ini pada junior saya. Tapi tidak jadi karena kata rekan saya, tidak adil jika menggunakan hidrogen peroksida karena zat tersebut mudah terurai. Jadi, mengikuti saja yang tertulis di modul.. " Penentuan Iodida"... Dengan begitu, sampelnya adalah Kalium iodida (KI).

      Pada prosedur penentuan iodida menggunakan metode iodatometri, titrasi dilakukan dalam suasana asam, peniter yang digunakan adalah kalium iodat dan indikator yang digunakan adalah kloroform. Titik akhir titrasi ditandai dengan menghilangnya warna ungu pada lapisan organik. Saat melakukan penelusuran mengenai reaksi ini.. saya menemukan sesuatu hal yang menarik. Seharusnya saya dapatkan 5 tahun lalu, tapi entah kenapa rasanya 5 tahun yang lalu tidak ada pembahasan soal ini..... Saya tahu mengapa titik akhir titrasi ditandai dengan menghilangnya warna ungu pada lapisan organik.. Hahahaha, telat banget sih :P

      Kuncinya adalah :
      Iodium larut dalam kloroform dan membentuk larutan berwarna ungu
      Perhatikan tahapan reaksinya...
      Sebelum titrasi:5I- + 6H+ tidak ada I2 yang terbentuk
      → kloroform tidak berwarna
      Saat mulai titrasi: IO3- +
      5I- + 6H+ ↔ 3 I2 + 3H2O mulai terbentuk I2 → mulai muncul warna ungu pada lapisan organik (kloroform)
      Reaksi terus berlanjut: IO3- + I2 + 6H+ ↔ 5I+ + 3H2O I2 yang terbentuk pada reaksi sebelumnya dikonsumsi oleh iodat sehingga I2 habis→ warna ungu pada lapisan (organik) hilang.

      Nah, kalau disuruh jelasin kenapa indikasi titik akhirnya begitu, sekarang bisa dong jelasinnya...

      Waktu praktikum itu, ada anak yang nanya, "Kenapa titik akhir titrasinya bukan saat terbentuknya warna ungu?", mengingat kebanyakkan titrasi kan gitu.. waktu terjadi perubahan warna pertama kalinya itulah titik akhir titrasinya.

      Jadi begini... saat warna ungu pertama kali terbentuk, iodida yang berada dalam sampel belum tertitrasi semua (reaksi belum sempurna). Dengan menggunakan indikator kloroform, tidak dapat dideteksi habisnya iodida (I-)tetapi dapat mendeteksi habisnya iodin (I2). Oleh karena itu, titik akhir titrasi yang digunakan adalah saat seluruh iodin telah bereaksi.

      Jangan lupa, reaksi titrasi di atas berjalan dalam 2 tahapan. Sehingga untuk pengolahan data, 2 tahapan reaksi tersebut harus dijumlahkan terlebih dahulu.

      Semoga berguna :)

      Monday, December 6, 2010

      Format Laporan Praktikum Farmasi

      0 comments
      Di dunia pendidikan farmasi ini tidak dapat dilepaskan dari dunia praktikum. Pada beberapa praktikum, praktikum diakhiri dengan pembuatan laporan. Sayangnya, terkadang praktikan tidak mengerti bagaimana membuat laporan, sehingga saya yang memeriksa kadang merasa kesal dan juga kasihan. Kasihan karena terlihat bahwa mereka tidak mengerti apa yang mereka kerjakan sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Selain itu, terkadang praktikan tidak tahu apa yang harus ditulis dalam tiap bagian laporan... Jadi, saya tulis di sini format laporan praktikum yang saya minta jika saya menjadi asistennya.

      1. Cover. Dalam cover atau sampul depan ini cantumkan kode dan nama mata kuliah, modul percobaan, judul percobaan, nama dan NIM penyusun (atau kelompok penyusun), tanggal percobaan, tanggal penyerahan laporan, nama dan NIM asisten, logo kampus tercinta, nama laboratorium, nama sekolah, nama kampus, tahun (optional). Nilai max. 5/100
      2. Tujuan. Tujuan yang dituliskan adalah tujuan yang jelas bisa dijawab dalam kesimpulan. Jangan seperti ini, "Setelah percobaa, mahasiswa dapat menyusun alat distilasi". Nah, kalau seperti itu, kesimpulan apa yang bisa dibuat? Nilai max. 5/100.
      3. Prinsip Percobaan. Dibandingkan dengan teori dasar, saya lebih suka jika praktikan membuat prinsip percobaan. Jika teori dasar, kadangkala praktikan menuliskan semua teori bahkan sejarah yang saya rasa tidak ada hubungannya dengan praktikum. Prinsip percobaanpun tidak perlu berpanjang-panjang ria.. 1 paragaraf pun sudah cukup. Untuk membuat prinsip percobaan, sarikanlah teori dasar menjadi prinsip percobaan. Oleh karena itu, bagian prinsip percobaan ini mempunyai bobot nilai yang cukup besar. Nilai max. 10/100.
      4. Alat dan Bahan. Bagian ini sepertinya dianggap tidak penting sehingga kadang ditulis dengan asal-asalan. Padahal bagian ini penting. Jika tidak penting, tidak mungkin bagian ini ada di seluruh jurnal penelitian. Pada bagian ini, saya mengharapkan dengan sangat para praktikan menulis alat dan bahan yang benar-benar digunakan saat praktikum. "Tapi, di modul tidak seperti itu Kak...". Modul itu cuma pengarah, kadang yang dilakukan di lab itu ada perbedaan dengan modul. Nilai max. 5/100.
      5. Prosedur. Bagian ini paling sering ditulis dengan seenaknya, langsung saja ketik ulang dari modul. Halloooo adik-adik... seperti yang telah saya tulis di No. 4, modul itu hanya pengarah dan kita bisa melakukan hal yang berbeda dengan yang tercantum di modul. Selain itu, di modul kadangkala berupa tuntunan umum, sedangkan saat praktikum sudah spesifik. Jadi, harap ya tulis sesuai yang dilakukan. Tulis dalam bentuk pasif. Nilai max. 10/100.
      6. Data Pengamatan. Pada bagian ini tuliskanlah semua hal yang merupakan data pengamatan. Untuk penggunaan simbol/singkatan, harap dituliskan keterangan arti dari simbol/singkatan tersebut. Penting loh. Selain itu, jika dibuat dalam bentuk tabel, buatkanlah nama tabelnya juga sehingga jelas identitas data tersebut. Buat serapi mungkin sehingga, data enak dilihat dan mudah dimengerti. Nilai max. 10/100
      7. Perhitungan/Pengolahan data. Pada bagian ini data pengamatan diubah menjadi bentuk yang kita inginkan. Misalnya, untuk praktikum titrasi, data pengamatan berupa volume peniter, dalam pengolahan data, volume peniter diolah sedemikian rupa menjadi konsentrasi sampel. Buatlah pengolahan data serapi mungkin untuk memudahkan pemeriksaan. Nilai max. 10/100
      8. Pembahasan. Akhirnya, sampailah pada inti dari laporan, pembahasan. Dalam pembahasan, terkadang praktikan memasukan banyak hal yang tidak penting yang tidak ada artinya. Seperti saat praktikum penggunaan instrumen, seharusnya sih tidak perlu ada pembahasan mengenai alat kecuali itu merupakan permintaan asisten. Contoh lain yang menurut saya menunjukkan ketidakmengertian praktikan, praktikum instrumen tetapi dalam pembahasan mencantumkan mekanisme kerja obat. Walaupun sampel berupa senyawa obat, bukan berarti harus ada pembahasan mekanisme kerja obat dong. Sesuaikanlah pembahasan dengan lab nya. Yang wajib dibahas (yang sering sekali merupakan bagian tersedikit dalam pembahasan) adalah hasil percobaan, apakah sesuai dengan yang diinginkan? Jika tidak kenapa? Analisislah hal-hal yang terjadi dalam praktikum sehingga hasil yang diperoleh seperti itu. Nilai max. 35/100
      9. Kesimpulan. Bagian penutup laporan, merupakan jawaban dari tujuan. Nilai max. 5/100
      10. Pustaka. Tuliskanlah sumber-sumber referensi yang digunakan dalam menyusun laporan. Tuliskan dengan format yang benar (cara penulisan akan diterangkan kemudian). Perlu diingat, modul praktikum, slide kuliah, blogpost tidak dapat digunakan sebagai referensi. Nilai max. 5/100.

      Baiklah, sekian mengenai format laporan, semoga bisa menyusun laporan dengan baik ya.. :D