Showing posts with label ujian apoteker. Show all posts
Showing posts with label ujian apoteker. Show all posts

Saturday, March 22, 2014

Cara menghitung penetapan kadar

0 comments
Jika kita cermati pernyataan persyaratan kadar suatu bahan di farmakope, biasanya ada embel-embel seperti ini: 
dihitung terhadap zat anhidrat (calculated on anhydrous basis)
atau
dihitung terhadap zat yang dikeringkan (calculated on dried basis)

Apakah kita harus mengkondisikan zat kita menjadi anhidrat dulu atau kita keringkan dulu sebelum kita melakukan penetapan kadar?
Jawabannya TIDAK. Karena jelas ditulis disana, dihitung bukan ditetapkan. Saya lupa juga sih apa ada pernyataan ditentukan terhadap zat anhidrat (determined on anhydrous basis).

Apa bedanya pernyataan keduanya?
Zat anhidrat berkaitan dengan kadar air, sedangkan zat yang dikeringkan berkaitan dengan susut pengeringan.
Dengan kata lain, penetapan kadar yang dihitung terhadap zat anhidrat berarti hasil penetapan kadar pada zat yang tidak kita kondisikan itu kita koreksi dengan kadar airnya.
Serupa, penetapan kadar yang dihitung terhadap zat yang dikeringkan berarti hasil penetapan kadar pada zat yang tidak kita kondisikan itu kita koreksi dengan susut pengeringannya.

Cara koreksinya?
Ya matematika dong.
Oke, contoh.
Hasil penetapan kadar (basis basah): 98.7%
Kadar air: 0,8%
Kadar zat tersebut terhadap zat anhidrat?
Karena saya sendiri pusing dengan terlalu banyak persen di sana, mari kita udah jadi mg aja ya.
Dari 100 mg sampel zat X yang kita periksa, ternyata hanya mengandung 98,7 mg zat X. Air yang terkandung ada 0,8% alias 0,8 mg.
Berarti, zat anhidrat kita adalah 100 mg - 0,8 mg =  99,2 mg.
Maka kandungan zat X terhadap zat anhidrat = 98,7/99,2 x 100 % = 99,5%

Gimana kalau di Farmakope yang satu penetapan kadarnya terhadap zat anhidrat, tapi di Farmakope satunya lagi terhadap zat yang dikeringkan. Pilih yang mana?
Ya pilih yang bisa dikerjain lah.. ada alatnya ga? ada bahannya ga? Tapi ingat.. harus sepaket ya. Misal, Farmakope 1 penetapan kadarnya titrasi, dihitung terhadap zat yang dikeringkan.
Farmakope 2 penetapan kadarnya HPLC, dihitung terhadap zat anhidrat.
Wah, ga ada bahan untuk titrasinya nih.. boleh ga pilih HPLC, tapi koreksi susut pengeringan? Jelas ngaco!

Oke, kita usahakan bahan untuk titrasinya.. jadi pasti bisa titrasi. Ehhhh, susut pengeringannya ternyata divakum dan pakai adsorben, boleh ganti pakai oven aja ga?
Jawabannya: Ga boleh!
Alasannya: Emangnya farmakope itu ga tau susut pengeringan bisa pakai oven? kalau dia suruh pakai vakum ya ada alasannya lah..


Selamat menetapkan kadar dengan cara menghitung yang benar :)

Saturday, August 25, 2012

Uji Batas Logam Berat

0 comments
Dulu, saya pernah ditanya oleh seorang dosen beberapa minggu menjelang ujian apoteker,
Kalau uji batas ya.. saya penasaran, apa peserta ujian itu mengerti bagaimana menghitung jumlah sampel yang akan diuji?

Kalau ditanya apakah tahu cara menghitungnya cukup gunakan saja rumus yang ada di farmakope.. tapi ngerti ga?

Contohnya, untuk perhitungan sampel untuk uji batas logam berat cukup hitung dengan rumus berikut:
2,0/(1000L)
dengan L adalah batas logam berat (dalam persen) yang tertera pada monografi
Pengujian ini menggunakan prinsip perbandingan, larutan sampel dibandingkan dengan larutan standar dan yang dibandingkan adalah intensitas warna yang terbentuk. 
Untuk pembacaan hasilnya adalah lebih intens atau tidak lebih intens. Nah, "lebih intens" dan "tidak lebih intens" itu diterjemahkan menjadi "lebih dari L" dan "tidak lebih dari L"

Paham sampai tahap ini?

Nilai L untuk sekian banyak senyawa di Farmakope kan beda-beda.. tapi prosedur pembuatan larutan kontrolnya sama. Jadi, bagaimana caranya satu larutan standar itu bisa menjadi acuan 0,1% atau 0,5% atau  1%?

Yang kita jadikan acuan di sini tentu saja nilai L atau batas yang ditentukan di farmakope. Oh iya, untuk di USP, FI batas logam berat dinyatakan dalam persentasi, di dalam JP dinyatakan dalam bentuk ppm. Jadi, jangan salah nanti menggunakan data dari JP tanpa mengetahui persyaratan di USP dan FI langsung menggunakan angka dalam ppm tsb., menjadi nilai L.


Well, karena si larutan standarnya tetap, tentu saja yang menyesuaikan adalah larutan sampelnya.. maka dari situlah alasannya kita harus menghitung jumlah sampel yang digunakan.. Menghitungnya dengan rumus yang di atas..

Sampai di sini semoga sudah paham alasan bahwa jumlah sampel yang digunakan itu harus dihitung terlebih dahulu..

Coba sekarang kita baca cara penyiapan larutan standarnya (dari USP 32)

Standard Preparation— Into a 50-mL color-comparison tube pipet 2 mL of Standard Lead Solution (20 µg of Pb), and dilute with water to 25 mL. Using a pH meter or short-range pH indicator paper as external indicator, adjust with 1 N acetic acid or 6 N ammonium hydroxide to a pH between 3.0 and 4.0, dilute with water to 40 mL, and mix.

di mana,
Standard Lead Solution— On the day of use, dilute 10.0 mL of Lead Nitrate Stock Solution with water to 100.0 mL. Each mL of Standard Lead Solution contains the equivalent of 10 µg of lead. A comparison solution prepared on the basis of 100 µL of Standard Lead Solution per g of substance being tested contains the equivalent of 1 part of lead per million parts of substance being tested.

Jelas ya tertulis kalau di larutan standar itu terkandung 20 µg of Pb. Jadi, agar kita bisa membandingkan dua hal yang ekuivalen.. kita harus membuat larutan sampel kita juga mengandung 20 µg logam berat yang dalam hal ini adalah Pb.

Mungkin terlintas juga pertanyaan, "Loh bukannya dengan pengujian ini saya ingin mengetahui kadar logam berat yang terdapat dalam sampel saya, kok ini malah harus sudah tahu kadanya?"


Jika dipersyaratkan batas logam berat dalam senyawa X adalah 0,001% maka untuk mendapatkan larutan sampel yang ekuivalen kita cukup menghitung sejumlah sampel yang 0,001% bagiannya adalah 20 µg. Dengan kata lain, perhitungannya cukup dilakukan dengan perhitungan sederhana, pembagian saja.
20 µg dibagi dengan 0,001% yaitu 2.000.000 µg atau 2 g.

Perhitungan dengan rumus 2,0/(1000L)
 2,0/(1000 x 0,001) = 2 g
q.e.d

Lalu..Lalu.. Bagaimana kalau ternyata kandungan logam berat dalam sampel kita hanya 0,00001% atau malah 0,003%?

Nah, itulah yang akan terjawab dengan uji batas tersebut melalui intensitas warna yang terbentuk.

:)
Paham?

Saturday, June 23, 2012

Kemurnian?

0 comments
"Uji batas kok termasuk uji kemurnian? Kan kalau udah ada cemaran berarti ga murni dong?"

Singkatnya sih, bahan yang kita uji itu pasti tidak murni 100%. Jadi, standar murninya mengacu pada monografi bahan itu. Kalau di monografi ada tertera uji batas berarti memang ada toleransi keberadaan cemaran yang dimaksud.


Saturday, September 17, 2011

Generic Drug Formulation

0 comments
Buku ini ga ada di perpus, adanya di POOL. Buku yang di POOL itu edisi ke-2 (1998). Untuk e-book nya bisa di-download langsung dari web BASF, ini download link-nya yang saat ini sudah edisi ke-4 (2001).

Buku ini diawali dengan penjelasan singkat mengenai beberapa bentuk sediaan farmasi dan pertimbangan-pertimbangan yang biasanya dilakukan dalam formulasi. 

Penyusunan dilakukan alfabetis. Untuk navigasi gunakan bookmark yang memuat huruf awal zat. Setelah itu akan dibawa ke daftar isi. Klik saja judul formula yang diinginkan, nyampe deh di halaman yang dimaksud :D.

Isi selanjutnya dari buku ini tentu saja formula-formula sediaan. Mengikuti tiap formula terdapat cara pembuatan (singkat), sifat sediaan yang dihasilkan juga ada data stabilitas fisiknya. Contoh untuk tablet selain formula juga terdapat data ukuran, bobot, kekerasan, friabilitas, waktu hancurnya.

Formulasi Tablet Captopril


Buku ini tampaknya akan sangat membantu untuk mengisi bagian formula pustaka dan juga mencari inspirasi untuk pengembangan formula.

Kalau googling pake keyword: "Generic Drug Formulation BASF" nanti ketemu juga buku-buku lainnya seperti Generic Drug Formulation with Kollicoat IR, Generic Drug Formulation with Kollicoat SR 30 D and Kollidon 30 SR. Kalau liat sekilas yang with Kollicoat IR itu seperti hal-hal yang penting jika bekerja dengan Kollicoat IR (yang adalah bahan salut).

Thursday, September 15, 2011

Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets

0 comments

Buku yang sering disebut "Lachman Tablet" ini terdiri dari 3 volume. Buku yang disediakan oleh perpustakaan dan yang versi e-book sepertinya sama (2nd Ed.).

Isi dari vol. 1 mencakup dari teori-teori pertabletan (seperti bahan kuliah lah.. da kuliah ngambil dari sini) mulai dari pertimbangan dalam preformulasi, metode pembuatannya (GB, GK, KL), eksipien-eksipien yang digunakan permasalahan yang terjadi, berbagai macam bentuk tablet (konvensional, salut, effervescent, dll.), evaluasi, dan contoh formula untuk beberapa tablet yang mungkin.
Untuk vol. 2 dan 3 tidak terlalu banyak dieksplorasi karena nampaknya bahannya sudah terlalu njelimet.


Jadi, untuk "Lachman Tablet" Vol. 1 ini banyak digunakan sebagai sumber dalam "cari-cari alasan" yang memang dibutuhkan untuk mengisi subbab pengembangan formula di Bab 3. Contohnya,
Kenapa tablet zat x dibuat dengan metode granulasi kering?
Kenapa pilih eksipien y?
Kenapa pilih eksipien z untuk mengganti eksipien y?

Dari buku inilah cici belajar lagi tentang tablet. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca :D Buku ini buku favorit cici.. buku yang membuat cici jadi seneng dengan farmasetik. Hahahahaha..

Eh, udah ada nih yang 3rd Ed. (2008) terdiri dari 3 volume. Namanya udah ga boleh disebut Lachman lagi.. soalnya di sini Pak Lachman ga ngapa-ngapain.. hehehe..

Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets 3rd Ed. (2008)
Di buku vol.1 ada metode pembuatan tablet Granulasi  basah (dengan judul: Pharmaceutical Granulation Processes, Mechanism, and the Use of Binders) dan Granulasi kering (dengan judul: Dry Granulation). Untuk di bagian granulasi basah dibahas juga soal pengikat nah baca-baca tuh.. Di bagian granulasi kering,  cici liat ada skema roller compactor yang kaya di slide kuliah tablet cici dulu.

Di buku vol.2, ada pembahasan Kempa langsung, ada 1 bab khusus ngebahas penghancur dan 1 bab lain yang khusus tentang lubrikan, glidan, antiadheren.

Di buku vol.3 ada pembahasan Mechanical strength, isinya itu uji seperti friabilitas.

Wah cici rasa buku ini penting banget deh untuk teori-teori tablet, karena ini edisi baru juga mungkin banyak hal yang baru..

Ini juga buku yang membuat cici bersemangat untuk belajar farmasetik :D

Remington The Science and Practice of Pharmacy

0 comments

Berdasarkan data dari perpus, buku yang berjudul "Remington" itu ada 3 macem, 
  • Remington Pharmaceutical Practice (keluaran ahun 1961 dan disingkatnya RPP)
  • Remington Pharmaceutical Science (ada dua, keluaran tahun 1990 dan 1996. Yang 1996 itu 18th Ed., disingkatnya RPS)
  • Remington The Science and Practice of Pharmaceutical (keluaran tahun 2006, yang kalau ga salah disingkat RSPP). 
Untuk POOL, ada RPP, RPS 18, dan RSPP 21. Buku ini masuk ke kategori Buku Prioritas. Apa ya yang bikin buku ini jadi prioritas? Mungkin karena di buku ini ada monografi singkat sih..

Kalau diliat dari daftar isinya.. si buku ini isinya mencakup farmasetik, analisis, ada natural product, dan farmakologi sampai ke patient care..

Untuk sisi farmasetiknya, kayanya sih buku ini bisa jadi sumber untuk "cari-cari alasan", juga ada ilmu industri nya, ada juga cara ngelipet kertas untuk puyer.. haha.. ada juga tuh 1 bab isinya sterilisasi doang. Nah, karena ini buku bagus untuk "cari-cari alasan" jadinya buku ini harus dibaca jauh sebelum ujian. Karena alasan-alasan itu baiknya disiapin jauh-jauh hari.

Untuk kimianya ada nama-nama gugus fungsi, ada juga penjelasan singkat beberapa zat, ada teori asam basa, perpindahan elektron segala macem, ada SAR and drug design juga.

Weleh-weleh ada juga drug nomenclature.. mungkin karena kebanyakan orang sono bikin obat tuh bener-bener bikin obat baru, itu di sana dijelasin gimana cara ngenamain obat baru itu.. baru tau ada yang beginian.. hahahaha

Untuk analisisnya ada penjelasan titrasi, indikator-indikatornya, ada cara spektrometri, lengkap dah..

Di belakang baru deh ada monografi gitu.. dari buku inilah cici waktu itu baca kalau si eritromisin itu harus di salut enterik, tapi esternya ga usah.. Kata-katanya begini:
The antibiotic is destroyed by gastric acid so enteric-coated preparations of the free base and acid-resistant salts or esters are used.
Waktu itu cici udah ga mau menyalut dengan salut enterik jadinya..

Di belakang-belakangnya lagi baru deh ada tentang patient care.

Bukunya tebel ampir 3000 halaman, bingung juga ngebedahnya gimana :P

Setelah cici liat buku ini sebenarnya ga tepat juga kalau masukin buku ini ke kategori Farmasetik. Kalau diliat dari tingkat kepentingannya sampai buku ini masuk ke daftar buku prioritas paling karena dia ada monografinya itu. Tapi karena buku ini terlalu lengkap sampai segala macem aspek farmasi ada.. ya udah, cici nurut aja deh ama perpus: buku ini buku Farmasetik. Tapi, saat di sistem lajur itu kemungkinan besar informasi yang kamu ambil dari buku ini adalah monografi.

Stockley's Drug Interactions

0 comments

Buku ini yang disediakan oleh perpustakaan adalah yang keluaran tahun 1999 (ga tau edisi berapa). Berdasarkan data yang cici punya, POOL ga punya buku  ini. 

Berdasarkan sekilas pandang buku edisi ke 8, dari judulnya sudah jelas buku ini berisi interaksi-interaksi obat. Penyusunannya berdasarkan golongan obat, untuk contohnya ada bab ACE inhibitors and Angiotensin II receptor antagonists. Pada bab tersebut dijelaskan interaksi obat-obat golongan tsb. dengan faktor lain (bisa obat lagi atau  makanan). 

Pembahasan untuk interaksinya bisa dibilang panjang dan memusingkan.. hehehe.. Di awalnya dijelaskan singkat interaksi yang terjadi, dilanjutkan dengan clinical evidence, mechanism, importance and management, dan terakhir adalah referensinya. Untuk memudahkan pencarian zat aktif yang kita perlukan, gunakan fasilitas indeks dari buku tersebut.

Kalau cici liat indeks nya... contoh, Abacavir
Abacavir
 + Alcohol, 51
 + Amprenavir, 804
 -dst-

Halamannya beda-beda, jauh pula, jadi agak ribet juga ya kalau mau cari-cari interaksinya...

Menurut cici untuk mengisi bagian "Interaksi Obat" di jurnal ujian kita sih kalau dari Stockley ini agak buang waktu.. halamannya ngaclok-ngaclok, bahasanya susah dan panjang. Mending ambil dari AHFS aja.. hehehhee..

Japanese Pharmacopoeia

0 comments

Japanese Pharmacopoeia (JP) adalah salah satu buku monografi yang cukup sering digunakan. Buku yang disediakan oleh perpus adalah JP 14. Untuk e-book ada JP 14 dan JP 15 dan dua-duanya diberikan oleh pemerintah Jepang (tentunya pake bahasa Inggris, dikasih sama pemerintah Jepang untuk non-Japanese speaking people) bisa didonlot dengan gratis. Versi terbarunya masih JP 15 (2006).

Untuk isi farmakope ini ya seperti kebanyakan farmakope lainnya tentunya ada monografi dan berbagai lampiran yang menyangkut pengujian-pengujian yang dipersyaratkan. Kelebihannya adalah farmakope ini menyediakan spektrum ultraviolet dan inframerah untuk zat aktif dan beberapa eksipien. Untuk spektrum UV diberikan dalam 1 jenis pelarut saja dan pada monografinya diberikan parameter A1%,1cm nya. Spektrum IR yang diberikan adalah spektrum yang dihasilkan dari senyawa dalam cakram KBr, spektrum digambarkan lengkap mencakup daerah gugus fungsi dan daerah sidik jari.

British National Formulary

0 comments

Buku ini ada BNF 46 (perpus) dan BNF 53 (POOL). Edisi terbaru saat ini adalah BNF 61. Selama ini BNF dikategorikan ke buku Farmasetik, tapi setelah tadi dibuka-buka buku ini lebih ke Farmakologi deh walau ada farmasetiknya. juga. Jadi, buku ini cici masukin ke kategori Farmakologi.

Berikut yang cici liat di BNF 58:
Buku ini katanya sih kaya MIMS nya British. Seperti MIMS memang, penyusunan berdasarkan gangguan sistem organ namun penyusunan selanjutnya adalah berdasarkan zat aktif bukan berdasarkan merk. Selain itu untuk golongan obat besarnya ada teori singkat mengenai farmakologinya.

Contoh untuk Loop diuretics:
Loop diuretics are used in pulmonary oedema due to left ventricular failure; intravenous administration produces relief of breathlessness and reduces pre-load sooner than would be expected from the time of onset of diuresis. Loop diuretics are also used in patients with chronic heart failure. Diuretic-resistant oedema (except lymphoedema and oedema due to peripheral venous stasis or calcium-channel lockers) can be treated with a loop diuretic combined with a thiazide or related diuretic (e.g. bendroflumethiazide 5–10 mg daily or metolazone 5–20 mg daily).

(dan masih ada 2 paragraf lagi)

Informasi yang disampaikan di tiap zat aktif adalah:
Indikasi, perhatian, kontra indikasi, efek samping, dosis, obat-obat yang beredar di pasaran (lengkap dengan kekuatan dan harganya)

Bagian awal sebelum "monografi" 
Ada banyak informasi.. tapi yang paling menarik itu ada Guidance on prescribing, ada prescription writing guidance segala.. Keren :D

Lampiran (Appendix)
Appendix 1. Interactions, berisi interaksi antara obat apa dan apa dan apa akibatnya.
Appendix 2. Liver disease, berisi obat-obat yang mempunyai komentar khusus untuk penyakit hati ini, tentu ada komentarnya juga.
Appendix 3. Renal impairment, mirip dengan appendix 2. Ada rumus perhitungan eGFR (estimated Glomerulus Filtration Rate) untuk menentukan tingkat keparahan gangguan ginjalnya.
Appendix 4. Pregnancy, mirip appendix 2 dan 3.
Appendix 5. Breast-feeding, mirip appendix 2,3,4.
-dst- sampai Appendix 9 liat sendiri aja dah.. hehehe

Florey

0 comments

"FLOREY" begitulah kita menyebut serangkaian buku keren ini. Sampai tahun ini, 2011, rangkaian buku ini telah mencapai volume 36. Sayangnya, volume 35 dan 36 hanya bisa di-download kalau punya password science direct. (klik gambar bukunya, ntar masuk ke web nya science direct).

Untuk isi buku ini ya udah tau kan ya.. Buku ini memuat banyak karakter fisik dan kimia  (bisa dibilang yang terlengkap). Tidak cuma karakternya tapi juga cara karakterisasinya. Kadang juga ada ulasan farmakologi, farmakokinetikanya, tidak ketinggalan cara sintesisnya... Tapi, sayangnya hanya untuk senyawa-senyawa tertentu saja. Jadi, tidak semua senyawa ada ulasannya di buku ini.

Buku ini sebenarnya bukan ditulis oleh Klaus Florey, dia itu EDITOR nya.. Seperti bisa dilihat, tiap monografi itu beda-beda penulisnya. Selain itu, Klaus Florey ini jadi editor volume 1-20 aja. Dari volume 21-36 itu editornya adalah Harry Brittain.


Buku ini ada namanya dong.. bukan FLOREY namanya, tapi Analytical Profiles of Drug Substances and Excipients (untuk vol 1-29) dan ganti namanya jadi Profiles of Drug Substances, Excipients, and Related Methodology (untuk vol 30-36).

Apaan sih cii.. ga penting nyeritain begituan... 
Yah, ini kan ngaruh untuk penulisan daftar pustaka.. Walau mungkin ga dinilai sampe segitunya, tapi atuhlah.. kalau udah tau yang bener kenapa juga pake yang salah..

Oiya, untuk buku ini juga disarankan untuk punya cumulative index-nya dan dibawa saat ujian. Untuk cumulative index, liatnya di volume paling akhir (dalam hal ini 34, kecuali nanti vol 35 dan 36 udah di-download, ya liatnya di vol.36).

Cara baca indeksnya, contoh:
Acebutolol, 19, 1
artinya, ulasan Acebutolol ada di buku VOLUME 19, mulai dari halaman 1.

AHFS Drug Information

1 comments

AHFS (American Hospital Formulary Service) yang terbaru itu yang terbitan tahun 2011 ($299.0 kalau mau beli yang asli :P), tapi untuk ujian apoteker yang terakhirpun masih dikasih yang 2008 dari perpus. Buku ini tergolong yang paling lengkap dalam hal jenis dan juga informasinya dan bahasanya mudah dimengerti segitu mah... Makanya, ini jadi buku prioritas dan cici pun pake buku ini jadi sumber mayoritas untuk farmakologi.

Karena ini buku Amerika, jelas isinya adalah obat-obat yang digunakan di Amerika. Kalau ga dipake di Amerika, ya wayahna weh euweuh di AHFS.

Isi: (lihat juga snapshot-nya, diklik aja gambarnya untuk gambar yang lebih besar)
  • Judul
  • Pengenalan deskripsi
  • Kegunaan (Uses)

  • Dosis dan Administrasi (Dosage and Administration)

  • Peringatan (Cautions) yang mencakup efek samping (digolongkan berdasarkan efek terhadap sistem organ), perhatian terhadap populasi tertentu, kontraindikasi, karsinogenisitas, perhatian pada kehamilan, kesuburan, dan kegiatan menyusui.
  • Interaksi obat (Drug Interactions)
  • Gangguan terhadap uji lab (Laboratory Test Interferences)
  • Toksisitas Akut (Acute Toxicity)
  • Farmakologi (Pharmacology) yang mencakup mekanisme kerja, spektrum, resistensi
  • Farmakokinetik (Pharmacokinetics) ADME (untuk M tidak ada judulnya sendiri tapi biasanya ada di dalam E)

  • Sifat kimia dan stabilitas (Chemistry and Stability)
  • Contoh sediaan di pasaran (Preparations)

Nah, kadang ada senyawa yang dicantumkannya di beberapa bagian. Contoh: Eritromisin.
Eritromisin itu tercantum di:
8:00 Anti-infective Agents
     8:12.12.04 Erythromycins
52:00 Eye, Ear, Nose, and Throat (EENT) Preparations
      52:04 Anti-infectives
            Erythromycin
84:00 Skin and Mucous Membrane Agents
      84:04 Anti-infectives
            84:04.04 Antibacterials
                     Erythromycin
Jadi, kalau dapat soalnya Tablet Eritromisin yah harusnya sih beda bagian yang kamu fotokopi kalau kamu dapetnya Salep Mata Eritromisin. Nah di bagian indeks itu ga ditulis yang halaman berapa yang untuk eye, skin, atau yang oral. Ya, harus cermat juga lah pokoknya :D


Saturday, February 12, 2011

Syringe Filter Holder

4 comments
Berbagai Syringe Filter Holder

Syringe filter holder, sebuah alat penting yang membantu dalam proses penyaringan. Seperti namanya, alat ini adalah penahan syringe yang digunakan untuk menyaring yang di dalam alat ini dimasukkan membran yang akan adalah sang penyaring.

Dalam dunia kita ini, dunia farmasi maksudnya, syringe filter holder digunakan dalam:
  1. Menghilangkan partikulat dari sampel yang akan dianalisis dengan HPLC, GC, MS, NMR (juga dari sampel yang akan dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis jika sampel mengandung zat-zat yang tidak larut, contohnya di uji disolusi) atau  dari sediaan yang harus bebas partikulat. Karena tujuannya adalah menghilangkan partikulat  maka membran yang digunakan cukup membran partikulat 0,45µm. Kecuali ada alasan tertentu yang membuat penyaringan harus dilakukan dengan membran bakter 0,22µm.
  2. Mensterilisasi sediaan yang diharuskan steril tetapi tidak tahan lembab, panas, cahaya. Tentunya digunakan membran bakteri 0,22µm yang dapat menahan bakteri.
  3. -dll- aplikasi lain yang memungkinkan.
Nah,  yang perlu diingat saat menggunakan alat ini:
  1. Jangan salah menggunakan alat ini. Contohnya saat akan mensterilisasi sediaan, jangan mengambil sediaan ruah dengan syringe yang telah terpasang dengan syringe filter holder dan membran. Saat mengambil sediaan yang tidak steril tersebut, bagian membran yang akan kontak dengan filtrat menjadi tidak steril dong. Contoh lain yang serupa, saat mengambil sampel uji disolusi.
  2. Gunakan syringe filter holder yang tepat. Kenapa ada berbagai macam bahan penyusun syringe filter holder ini? Kenapa ada berbagai macam ukuran diameternya? Kalau tidak tersedia pilihan.. yahhh, terpaksa :P
  3. Pastikan menggunakan membran yang tepat. Membran partikulat atau membran bakteri?
  4. Pastikan menggunakan sisi membran yang tepat. Nah, bagian yang lebih kasar menghadap ke mana? Ke arah cairan yang akan difiltrasi atau ke filtrat?
  5. Pastikan posisi membran pada syringe filter holder tepat. Kadangkala pengguna tidak tahu cara memposisikan membran dalam syringe filter holder. Saya sendiri saja terkadang lupa... hehehe.. Berikut gambar posisi membran yang tepat.
    sumber: http://www.osmolabstore.com

    Jadi, membran itu harus berada di antara saringan dan cincin putih.
  6. Jangan lupa mensterilkan alat ini, untuk yang berhubungan dengan steril. Gunakan metode sterilisasi yang tepat. Syringe filter holder dari Sartorius itu autoclavble juga ada yang bisa dry heat (yang stainless steel).
  7. Jangan merusak alat ini.. hahahahaha.. mahal bow. Ada sih yang murah, stainless steel 13 mm buatan Cole-Palmer, di Amazon.com dihargai $2.5 saja.. tapi ongkos kirimnya??? Gasket,PTFE; for stainless steel syringe filter holder, 13 mm. Kalau di SAKURA sih ada, tapi yang 25 mm (yang di lab biasanya 13mm), disposable, harga Rp. 15000 saja.
  8. Jangan lupa dicuci yaa...Caranya?
    Bongkar.
    Perhatikan apakah ada luka.
    Bersihkan semua komponen dengan deterjen lab standar yang rendah alkali, non-abrasive.. hmmm.. ga punya kayanya.. hahaha.
    Bersihkan sambungan dengan sikat yang kaku.
    Cuci dengan air ledeng lalu terakhirnya dengan aquades atau aqua deion.
    Keringkan, jangan disimpan dalam keadaan basah.
  9. -dll- :P
Nah, karena ada yang tanya tentang beli syringe filter holder ini di mana, saya coba-coba ingat, dulu itu di kampus ada pameran dari Waters (supplier resminya di sini Kromtekindo) dan saya pernah tanya-tanya tentang syringe filter holder ini. Untuk yang stainless steel, 13 mm harganya dulu saja sudah 2,5 juta rupiah. Bisa juga coba tanya ke Laborindo.

Tadi saya sempat ke toko Sakura, di Bandung, saya lihat ada syringe filter holder dari polycarbonate keluaran Sartorius. Saya tanyakan yang 25 mm harganya Rp. 175.000.Mereka menjual yang 47 mm juga.

Untuk kontak sakura, bisa lewat Yahoo Messenger atau email mereka yang ada di website mereka. Untuk websitenya, http://www.tokosakura.com/

Sumber:
  1. GE Osmonics Labstore: GE Swinney, 13 mm Filter Holders
  2. Sartorius: Laboratory Product Catalogue, Total Laboratory Science Support 
  3. Sartorius Stedim Biotech:  Minisart® Syringe Filters Brochure  
  4. Sterlitech Corporation: Stainless Steel Syringe Filter Holders
  5. The Blog of Rosadora: Syringe Filter Holder
  6. Sartorius: Polycarbonate syringe filter holder, 25 mm 16517----------E


      Sunday, February 6, 2011

      0,434 angka ajaib Spektrofotometri UV-Vis

      0 comments
      Pernah dengar angka ajaib ini 0,434?
      Apa ajaibnya coba?

      Jadi, di saat Absorbansi (A) = 0,434 terjadi galat spektrofotometri yang minimum. Oiya? apa dasarnya? Uhm.. berikut dasarnya, diturunkan secara matematis. (karena saya tidak tahu cara penulisan notasi matematis dalam format html, jadi terpaksa saya sajikan dalam bentuk gambar saja). Penurunan matematis ini saya tulis ulang dari buku Analisis Kimia Kuantitatif versi terjemahan, untuk versi aslinya: Quantitative Analysis (6th Edition).
      Berawal dari Hukum Beer yang menyatakan serapan (A) adalah logaritma dari daya radiasi yang dilewatkan terhadap daya radiasi yang diteruskan. Setelah itu bentuk logaritma tersebut diubah menjadi bentuk logaritma naturalnya. A berbanding lurus dengan konsentrasi (c).

      Galat relatif adalah perbandingan galat (Δc) relatif terhadap konsentrasi (c). Karena A setara dengan c maka dc/c = dA/A. Rumus dc/c mulai diturunkan dengan langkah awal mendiferensialkan rumus A.

      Setelah proses diferensial yang cukup panjang dan rumit, akhirnya diperolehlah bentuk yang sederhana dari dA/A.
       


      Dari Hukum Beer, dicari kesetaraan nilai P. Kemudian nilai P tersebut disubtitusikan ke dalam rumus dA/A yang juga setara dengan dc/c.
      Untuk daya radiasi yang dilewatkan (P0) digunakan nilai 1. Sehingga nilai P0 itu seakan-akan hilang dari rumus. Nah, untuk mengetahui galat relatif minimum (dc/c), maka terlihat jelas dari rumus yang didapat bahawa dc/c akan minimum jika A x 10-A maksimum.



      Nilai maksimum  A x 10-A didapat dari turunannya yang = 0. Maka, diperolehlah, A = 0,434 adalah nilai A yang akan memberikan dc/c minimum.
      Lalu, apa faedahnya?

      Tenang, pasti ada fungsinya. Nilai A=0,434 ini kita gunakan dalam analisis dengan metode satu titik / one point method. Dalam analisis menggunakan one point method, konsentrasi baku yang digunakan hanyalah satu tingkat. Karena hanya satu tingkat maka tentu kemungkinan galat akan lebih besar daripada jika digunakan beberapa tingkat konsentrasi. Untuk meminimalkan galat, tentu saja gunakanlah nilai A=0,434 yang berdasarkan teori akan memberikan galat minimum. Putuskan konsentrasi yang akan dibuat sebagai konsentrasi baku yang akan digunakan, perlu diketahui juga nilai absorptivitas dari zat tersebut.

      Contoh:
      Untuk CTM diketahui nilai E1%1cm (265nm) = 210-220
       E1%1cm sama saja dengan A1%1cm. Untuk nilainya, gunakan nilai tengah saja, 215.

      Maka untuk memperoleh nilai konsentrasi yang dibuat dilakukanlah perbandingan antara A dan c.
      A yang kita inginkan/A1%1cm=  c yang kita inginkan/1 %.
      (Tahu kan darimana 1% nya).

      0,434/215=c/1%
      sehingga diperoleh c = 2x10-3 %.

      Sekian :P


      Sumber:
      1. Analisis Kimia Kuantitatif terjemahan Iis Sopyan, 1999
      2. JP XIV, p.  357

      Thursday, January 13, 2011

      Soal Ujian Apoteker Maret 2011

      0 comments
      Wah, siapa yang tahu tuh soal ujian apoteker yang akan datang? Tidak..tidak.. saya juga tidak tahu.. Lagipula hari-hari ini sih soalnya juga belum ditentukan. Percuma juga untuk yang mencoba mencari bocoran mengenai soal ujian ini. Kalaupun bocor.. rasanya tidak terlalu berguna juga.

      Tapi, menurut sepengamatan saya dan juga logika.. Yang dikeluarkan ya kebanyakkan soal-soal yang sudah pernah keluar. Tidak memungkinkan lah untuk membuat soal yang berbeda dari tiap putaran. Memangnya jenis zat aktifnya mencukupi? Semua jenis sediaan bisa dibuatkah dari zat aktif itu?

      Jadi, memang jalan satu-satunya adalah persiapkan diri sebaik-baiknya.. Pelajari semua kemungkinan bentuk sediaan yang mungkin dikeluarkan (kalau tidak salah ada 16 jenis, tapi karena ada yang mirip-mirip bisa dibuat menjadi 7 jenis). Pelajari titik-titik yang biasanya adalah celah ketidaklulusan.. hindarilah hal itu..

      Selamat menjalani masa persiapan dan selamat menjalani ujian apoteker.. Usahakanlah yang terbaik.. Kalian bisa!


      Saturday, January 8, 2011

      Cara Penentuan Ukuran Partikel Menggunakan Mikroskop

      3 comments
      Untuk mengukur partikel yang tidak nampak secara visual, kita dapat menggunakan bantuan mikroskop. Selain mikroskop, perlengkapan penting yang harus disediaakan adalah lensa okuler dan kaca objek khusus yang namanya ocular and stage micrometer. Penggunaan alat ini pernah disinggung dalam kuliah Farmakognosi Analitik dalam topik mengukur ukuran serbuk. Namun yang akan saya tulis di sini adalah penggunaannya dalam evaluasi sediaan (sediaan dalam sistem terdispersi dan sediaan yang dipersyaratkan jumlah partikel dengan ukuran tertentu). Penentuan ukuran partikel ini digunakan dalam evaluasi sediaan dengan sistem terdispersi. Yang akan ditentukan adalah distribusi ukuran partikel dalam sediaan dispersi tersebut. Selain itu, juga untuk menentukan jumlah partikel dengan rentang ukuran tertentu pada salep mata. Untuk ulasan mengenai evaluasi distribusi ukuran partikel dan evaluasi jumlah partikel dalam salep mata bisa klik di sini.

      Pada lensa mikrometer okuler (ocular micrometer) terdapat garis-garis yang diberi angka (ukuran), maksudnya seperti gambar berikut:
      Pada mikrometer kaca objek (stage micrometer) terdapat garis-garis dengan panjang total dari garis pertama hingga garis terakhir adalah 0.01 mm = 10 μm. Gambarnya sebagai berikut:



      Fungsi dari mikrometer kaca objek adalah sebagai pemberi ukuran standar. Pada kaca tersebut terdapat garis-garis skala dengan ukuran tertentu. Agar saat pengamatan, agar dapat ukuran partikel dapat diukur saat diamati, maka perlu dilakukan terlebih dahulu kalibrasi garis pada mikrometer okuler terhadap ukuran standar.


      Kalibrasi dilakukan dengan menhitung jumlah garis yang berhimpit. Pada contoh gambar di atas, jumlah total garis pada mikrometer okuler (eyepiece lines, disebut X) adalah dari 21 hingga 59 atau 38 garis skala. Jarak garis pertama hingga garis akhir pada kaca mikrometer objek (calibration slide lines, disebut Y) adalah 10 garis skala. Dengan begitu, dapat dikatakan:
      38 skala pada mikrometer okuler ~ 10 garis skala kaca mikrometer objek.
      1 skala pada mikrometer okuler ~ (10/38) x 10μm = 2.63 μm

      1 skala pada mikrometer okuler = (Y/X) x 10 μm


      Prosedur pengukuran ukuran partikel:
      1. Siapkan mikroskop, pasang mikrometer okuler dan mikrometer kaca objek pada tempatnya.
      2. Lakukan kalibrasi mikrometer okuler terhadap mikrometer objek dengan perbesaran yang akan digunakan (jika beberapa perbesaran yang digunakan, kalibrasikan pada seluruh perbesaran yang digunakan). Pada tahap ini, putar mikrometer okuler dan geser posisi mikrometer kaca objek hingga didapatkan posisi yang berhimpit antara garis-garis pada mikrometer okuler dan mikrometer kaca objek. Tentukan berapa garis pada mikrometer okuler yang berhimpit (superimpose) dengan garis pada mikrometer kaca objek. Disarankan untuk menggunakan garis awal dan garis akhir terhimpit dengan jarak yang paling jauh untuk mengurangi kesalahan.
      3. Siapkan sampel pada kaca objek yang lain. Jangan gunakan di mikrometer kaca objek, toh fungsi dari mikrometer kaca objek itu hanya untuk kalibrasi saja, lagipula saat diberi sampel garis-garis pada mikrometer kaca objek akan tertutup sampel.. apalah bedanya dengan kaca objek biasa jadinya? Terlebih lagi mengingat harga mikrometer kaca objek yang pasti tidak murah.
      4. Lepas mikrometer kaca objek, hati-hati jangan mengubah tinggi tabung mikroskop.
      5. Tempatkan kaca objek yang sudah berisi dengan sampel pada tempatnya.
      6. Silakan cari partikel yang akan diukur, ukur ukuran partikel dengan skala pada mikrometer okuler.
      7. Hitung ukuran sesungguhnya partikel yang diukur.

      Sumber isi dan gambar:
      1. Biology Program Iowa State University: "Lab Topic 2: Technique in Microscopy"
      2. Gustavus Adolphus College: "Exercise 1.3 - Measurements: Ocular and Stage Micrometers"
      3. LabShop.com - Affordable Lab Shop
      4. Mr. Damon: "Laboratory Investigation: The Micrometer Eyepiece"
      5. MxRady Lab Solutions Pvt.Ltd.
      6. Shibuya Optical Co., Ltd. : Objective Micrometer
      7. The blog of rosadora: Distribusi Ukuran Partikel


      Note ini dibuat mengingat saat ujian apoteker, seluruh peserta tidak tahu cara menggunakan alat tersebut dan mendapat arahan yang salah. Semoga apa yang ditulis di sini benar, sehingga saya tidak memberi arahan yang salah.

      :)